TUGAS PAPER

HUBUNGAN POSITIVISME DAN PENELITIAN KUANTITATIF

Tugas ini disusun untuk Memenuhi Mata Kuliah Metode Penelitian Kuantitatif






Disusun Oleh :

Dani Bina M

D0310016

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2012

HUBUNGAN POSITIVISME DAN PENELITIAN KUANTITATIF

Di dalam studi Sosiologi, yang bergerak di bidang kemasyarakatan maka banyak melakukan riset atau penelitian yang berhubungan dengan masyarakat baik yang bersifat mengembangkan, mengkritisi, maupun memberikan wacana tentang suatu daerah yang diteliti. Definisi penelitian juga bermacam –macam dapat didefinisikan sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data/informasi sebagaimana adanya dan bukan sebagaimana seharusnya, dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Penelitian kuantitatif adalah penelitian ilmiah yang sistematis terhadap bagian-bagian dan fenomena serta hubungan-hubungannya. Tujuan penelitian kuantitatif adalah mengembangkan dan menggunakan model-model matematis, teori-teori dan/atau hipotesis yang berkaitan dengan fenomena alam. Proses pengukuran adalah bagian yang sentral dalam penelitian kuantitatif karena hal ini memberikan hubungan yang fundamental antara pengamatan empiris dan ekspresi matematis dari hubungan-hubungan kuantitatif. Penelitian kuantitatif banyak dipergunakan baik dalam ilmu-ilmu alam maupun ilmu-ilmu sosial, dari fisika dan biologi hingga sosiologi dan jurnalisme. Pendekatan ini juga digunakan sebagai cara untuk meneliti berbagai aspek dari pendidikan. Istilah penelitian kuantitatif sering dipergunakan dalam ilmu-ilmu sosial untuk membedakannya dengan penelitian kualitatif.

Penelitian kuantitatif adalah definisi, pengukuran data kuantitatif dan statistik objektif melalui perhitungan ilmiah berasal dari sampel orang-orang atau penduduk yang diminta menjawab atas sejumlah pertanyaan tentang survei untuk menentukan frekuensi dan persentase tanggapan mereka. Sebagai contoh: 240 orang, 79% dari populasi sampel, mengatakan bahwa mereka lebih percaya pada diri mereka pribadi masa depan mereka dari setahun yang lalu hingga hari ini. Menurut ketentuan ukuran sampel statistik yang berlaku, maka 79% dari penemuan dapat diproyeksikan ke seluruh populasi dari sampel yang telah dipilih. pengambilan data ini adalah disebut sebagai survei kuantitatif atau penelitian kuantitatif.

Seorang peneliti yang akan melakukan penelitian perlu menggunakan metode untuk melakukan penelitian tersebut sehingga dlam memperoleh data, menganalisis hingga kepada kesimpulan dapat berjalan sesuai dengan tujuan penelitian yang hendak dicapai. Dalam suatu penelitian terdapat paradigma atau paradigma juga dapat berarti seperangkat asumsi, konsep, nilai, dan praktik yang di terapkan dalam memandang realitas dalam sebuah komunitas yang sama, khususnya, dalam disiplin intelektual sehingga dalam metode tertentu didasari oleh paradigma –paradigma yang ada, misalnya paradigma prapositivis, positivis, postpositivis, dll.

Terdapat dua metode pene;litian yang selama ini kita kenal yaitu metode penelitian kuantitatif dan kualitatif,dalam metode tersebut masing-masing memiliki paradigma yang berbeda. Paradigma Kuantitatif dikatakan sebagi paradigma tradisional, positivist, eksperimental,atau empirist. Pemikiran kuantitatif berasal dari tradisi kaum empiris yang dibangun oleh Comte, Mill, Durkheim,Newton,mdan Locke. Sedangkan untuk paradigma kualitatif merupakan pendekatan konstruktivist, imperative, atau pospositivist atau postmodern. Paradigma ini merupakan gagasan Dilthey, Weber,dan Kant.

Lantas apa hubungan antara paradigma positivist dengan metode kuantitatif ? dalam hal ini, metode kuantitatif merupakan penjabaran dari paradigma positivist yang digunakan oleh para penggagasnya di masa itu untuk memeliti masalah-masalah yang terjadi di sekelilingnya, dalam. Posotivisme bersumber dari orientasi ilmualam yang kajiannya diarahkan pada pengembangan teori, riset seoerti ini mendasarkan pada fakta yang dapat diamati secara langsung dan percaya bahwa membicarakan hanya ada satu realitas tunggal. Para positivis percaya bahwa setiap riset bebas nilai dalam mempersoalkan tentang hal yang dibahas di dalamnya, dimana antara peneliti dengan yang diteliti itu bersifat independen sehingga terpisah. Terdapat hubungan sebab akibat di dalamnya. Pada umumnya para positivis mengedepankan logika deduktifatau mendasarkan pada hipotesis yang dijabarkan secara logis ayau mendasarkan kajian pada hipotesis teori tertentu.paradigma ini disebut juga scientific inquiry yang bersifat konvergen,tunggal, fragmentasi, independen, dan terfokus pada persamaan untuk dapat digeneralisasikan.

Hubungannya adalah terletak pada asumsi yang mendasari penyusunan metode dalam penelitian kuantitatif, mulai dari paradigma yang membentuk teori dan diaplikasikan oleh para tokoh-tokoh positivist lalu diwariskan ke generasi berikutnya dan seterusnya sebagai warisan ilmu pengetahuan, lalu sifat-sifat data yang dicari juag mendasari di dalam metode kuantitatif terlihat misalnya pada hal yang menjelaskan bahwa positivist itu mendasarkan pengetahuan pada fakta yang diamati dan dalam metode kuantitatif objek yang diamati adalah yang bersifat nyata atau dapat diamati, hubungan antara peneliti dan yang diteliti juga bersifat independen, dan hamper semua di paradigma positivist mwnjadi acuan dalam menjalankan penelitian kuantitatif.

Penelitian kuantitatif menggunakan alur pemikiran positivist untuk mengkaji hal-hal yang ditemui dilapangan, tentunya sebelum melakukan penelitian maka kasus atau masalah yang akan diteliti sudah terlebih dahulu digolongkan masuk ke kuantitatif atau kualitatif,sehingga dalam proses selanjutnya peneliti tingggal melakukan riset dengan mngedepankan alur pemikiran yang tepat. Paradigma kuantitatif merupakan satu pendekatan penelitian yang dibangun berdasarkan filsafat positivisme. Positivisme adalah satu aliran filsafat yang menolak unsur metafisik dan teologik dari realitas sosial. Karena penolakannya terhadap unsur metafisis dan teologis, positivisme kadang-kadang dianggap sebagai sebuah varian dari Materialisme (bila yang terakhir ini dikontraskan dengan Idealisme). Dalam metode kuantitatif, dianut suatu paradigma bahwa dalam setiap event/peristiwa sosial mengandung elemen-elemen tertentu yang berbeda-beda dan dapat berubah. Elemen-elemen dimaksud disebut dengan variabel. Variabel dari setiap even/case, baik yang melekat padanya maupun yang mempengaruhi/dipengaruhinya,  cukup banyak, karena itu tidak mungkin menangkap seluruh variabel itu secara keseluruhan. Atas dasar itu, dalam penelitian kuantitatif ditekankan agar obyek penelitian diarahkan pada variabel-variabel tertentu saja yang dinilai paling relevan. Jadi, di sini paradigma kuantitatif cenderung pada pendekatan partikularistis. Jadi hubungannya terletak pada penggunaan paradigm positivis dalam menyusun kerangka penelitian kuantutatif.

DAFTAR PUSTAKA

Slamet, Yulius .2006 . METODE PENELITIAN SOSIAL . Surakarta : LPP UNS dan UNS Press.

Semiawan, Conny R. 2007 . CATATAN KECIL TENTANG PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN . Jakarta : Kencana

Slamet, Yulius . 2008 . PENGANTAR PENELITIAN KUANTITATIF . Surakarta : LPP UNS dan UNS Press.

http://id.wikipedia.org/wiki/Paradigma

http://www.mudjiarahardjo.com/materi-kuliah/167-perbedaan-paradigma-positivism-dan-interpretivism.html